Wai Tandung yang Menghilang

wai

Desa Tandung adalah sebuah desa di salah satu sudut Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar (Polman). Desa ini begitu menarik perhatian saya hingga saat ini. Ketertarikan saya terutama pada sebuah fenomena alam yang terjadi sekitar tahun 1987. Generasi yang lahir belakangan mungkin tidak banyak yang tahu bahwa desa ini pernah dialiri sebuah sungai yang oleh masyarakat setempat mengenalnya dengan nama Wai Tandung. Sungai yang  mempunyai debit air cukup besar ini pernah menjadi bagian penting masyarakat Tandung dalam pemenuhan kebutuhan air bersih seperti untuk air minum, mandi, mencuci, dan sebagainya. Jarak sungai berada dalam radius yang tidak jauh dari lokasi pemukiman warga. Sayangnya, cerita tentang sungai ini berubah setelah kejadian banjir besar kala itu. Sungai di sepanjang desa ini tiba-tiba menghilang sebab alirannya berbelok lebih awal di sekitar daerah Karumbannang ke arah Lekopa’dis.

Secara logika, air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Bila diteliti lebih lanjut, hipotesis penyebabnya adalah secara ekologi sedimen atau ikutan lain yang terbawa saat banjir besar terjadi mengakibatkan ketinggian dasar sungai di sepanjang Desa Tandung menjadi bertambah atau menjadi lebih tinggi dari arah hulu, Sungai kemudian mencari jalur yang lebih rendah dan membentuk pola aliran yang baru. Sejak saat itu, pola hidup masyarakat di sekitarnya pun drastis berubah terutama dalam hal pemenuhan kebutuhan air sehari-hari. Untuk mendapatkan air bersih, mereka harus menempuh jarak yang cukup jauh ke arah Karumbannang. Ataupun dengan fasilitas air bersih yang telah disediakan oleh pemerintah sekarang, paling tidak masyarakat tetap harus antri dan berbagi secara adil dengan yang lainnya.

Menurut sejarah, sungai ini telah tiga kali mengalami perubahan pola aliran. Dulunya sungai ini dikenal dengan Binanga Buta karena alirannya yang sengaja dibelokkan sehingga lahirlah nama Desa Lekopa’dis (air yang dibelokkan). Secara khusus, perubahan pola aliran Wai Tandung pada tahun 1987 adalah bentuk fenomena alam yang terjadi secara alami dengan sedikit banyak kaitan sejarah di dalamnya. Namun apapun penyebab utamanya, kita bisa sepakat bahwa sebuah banjir besar menjadi momentum dampak perubahan pola aliran Wai Tandung kala itu.

Cerita tentang banjir pada skala Kabupaten Polman bukan hal baru. Tidak hanya Kecamatan Tinambung, tapi kecamatan lain pun merasakan hal yang sama. Bedanya hanya pada intensitas serta dampak yang ditimbulkannya. Setiap banjir yang terjadi paling tidak akan mengakibatkan perubahan lingkungan secara ekologis. Bentuk kongkret perubahan ini ada yang langsung nampak seperti sejarah hilangnya Wai Tandung dan adapula yang tidak langsung terlihat karena berproses dalam jangka waktu yang lama. Banjir lain pada skala lokal di lingkup Kabupaten Polewali Mandar (Polman), tercatat pernah terjadi di hampir semua kecamatan, Kecamatan Limboro : (Desa Saragian, Malimbung, Palece Lipu, Tandasura), Kecamatan Alu (Desa Mombi, Paropo, Petoosang, Paopao, Alu), Kecamatan Tinambung (Desa Sepa Batu), Kecamatan Tutar (Desa Ambo Padang, Mosso), Kecamatan Mapilli (Desa Lampa), Kecamatan Wonomulyo (Desa Ugi Baru, Mampi’e), Kecamatan Balanipa (Desa Bala) dan Kec Luyo (Desa Tenggelang).

Pada kasus kekeringan, salah satu contoh kongkretnya terjadi di Dusun Kandemeng Desa Batulaya Kecamatan Tinambung, Polman. Sejak beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa sumur-sumur yang selalu berair sepanjang tahun pun sudah mulai dangkal bahkan mengering.

Kita cukup tahu bahwa hampir semua krisis lingkungan mulai dari banjir, tanah longsor, hingga kekeringan, jelas mengindikasikan bahwa akar masalah sesungguhnya adalah adanya pengaruh dan campur tangan manusia, dalam mengeksploitasi sumberdaya alam yang tidak memperhatikan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Penyebab terjadinya banjir selain intesitas curah hujan yang tinggi, kondisi ekologi pada unit-unit wilayah Daerah Aliran Sungai  (DAS) di bagian hulu, tengah dan hilir cenderung makin rusak dan terbuka karena eksploitasi sumberdaya yang berlebihan. Akibatnya, fungsi DAS bagian hulu sebagai daerah resapan pada saat musim hujan menjadi tidak optimal. Frekuensi dan intensitas curah hujan juga sulit diprediksi atau cenderung lebih sering terjadi dengan pola yang tidak teratur. Akibatnya di musim hujan terjadi masalah banjir dan tanah longsor, di musim kemarau terjadi masalah kekeringan bahkan kebakaran hutan dan lahan.

Pengecualian bagi kaum yang skeptis, semua krisis yang terjadi tersebut terkait erat dengan climate change ataupun global warming. Namun terkadang pengetahuan kita tidak serta merta menggugah respon kekhawatiran yang mendalam. Kebanyakan orang umumnya berfikir bahwa istilah-istilah itu hanya merupakan isu yang berada pada skala global, nasional atau sebatas isu lokal yang muncul hanya pada saat terjadinya bencana. Pada kenyataannya sulit mendapatkan respon atau tanggapan efektif. Mengapa ? Boleh jadi salah satunya karena pemahaman kita tentang global warming belum pada perspektif yang sama menganggapnya sebagai ancaman strategis (Al Gore, 1992). Selain itu, ketertarikan kita juga masih terbatas pada masalah-masalah yang lebih sering kita rasakan dampaknya secara materiil instan dalam jangka waktu yang tidak begitu lama.

Respon atau tanggapan efektif dalam hal ini selanjutnya harus diikuti pemilihan alternatif solusi yang tepat dengan pendekatan holistic dan proporsional. Holistik karena persoalan ekologi seharusnya tidak dibatasi oleh batasan adminitrasi suatu wilayah. Cakupan wilayah administrasi yang melingkupi suatu DAS harus dipandang sebagai satu kesatuan yang terintegrasi dengan beban tanggung jawab yang proporsional antar wilayah yang tercakup dalam DAS yang sama.

Pada akhirnya fenomena Wai Tandung dan sekian banyak fenomena krisis lingkungan lainnya di atas bumi ini memunculkan pertanyaan sederhana, “Lalu mau apa kita sekarang ?” Angkasa begitu luas dengan jutaan galaksi dan planet di dalamnya. Bahkan data terakhir menunjukkan bahwa para ahli astronomi Eropa telah menemukan 50 planet baru dalam tata surya kita, di antaranya hampir seukuran bumi, tapi mengapa Tuhan hanya memberikan planet bumi sebagai tempat dan sumber kehidupan kita. Filosofinya, kewajiban kita untuk menjaga dan merawat bumi ini dengan sebaik-baiknya. Bilakah di antara kita hingga detik ini enggan melakukan koreksi dan aksi penyelamatan bumi, ibarat rumah sebagai satu-satunya tempat kita berlindung, ternyata tanpa sadar telah kita rusak sendiri. Begitu pula dengan Tanah Mandar atau Sulawesi Barat dengan semua kompleksitasnya, bumi begitu luas, namun mengapa Tuhan menetapkannya ada di bagian spot bumi yang sekarang kita pijak ?

This entry was posted in General. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s